Selasa, 18 Oktober 2011


Sebuah cerita tentang kasih sayang

Pada suatu ketika ada sebuah pulau yang dihuni semua sifat manusia. Ini berlangsung lama sebelum mereka menghuni tubuh manusia. Sebelum mengotak-ngatiknya kedalam istilah baik atau buruk. Sifat ini berdiri sendiri sebagai manusia dengan masing” cirri khasnya. Optimisme, pesismisme, pengetahuan, kemakmuran, kesombongan, kasih sayang, dan sift” manusi lainnya.
Suatu hari ada pemberi tahuan bahwa pulau itu akan tenggelam pelan”. Sifat” ini dilanda kepanikan. Mereka segera menyiapkan perbekalan dan bersiap-siap meninggalkan pulau dengan perahu yang mereka miliki.
            Kasih sayang belum siap. Dia tidak memiliki perahu sendiri. Mungkin dia telah meminjamkannya kepada seseorang bertahun-tahun yang lalu. Dia menunda keberangkatannya pada saat” terakhir karena sibuk membantu teman yang lain bersiap-siap. Akhirnya kasih sayang memutuskan ia perlu bantuan.
            Kemakmuran baru saja akan berangkat dengan perahu yang besar lengkap dengan teknologi mutahir. “Kemakmuran bolehkah aku ikut denganmu?”, Tanya kasih sayang. “Tidak bisa perahuku sudah penuh dengn seluruh emas, perak, perabotan antic dan koleksi seni. Tak ada ruang untuk mu disini.” jawab kemakmuran.
            Lalu kasih sayang meminta tolong pada kesombongan yang lewat dengan perahu indah. “Kesombongan sudikah engkau menolongku?” tanya kasih sayang. “Maaf.” jawab kesombongan, “Aku tak bisa menolongmu. Kanu basah kuyup dan kotor. Nanti dek kapal ku kotor jika kau naiki.”
            Kasih sayang melihat pesimisme yang sedang berusaha payah mendorong perahunya ke air. Pesimisme terus-menerus mengeluh soal perahu yang berat, pasir terlalu lembut , air terlaulu dingin dan kenapa pulau ini mesti tenggelam. Kenapa kesialan ini menimpanya? Meski pesimisme mungkin bukanlah teman perjalanan menyenangkan, kasih sayang sudah sangat terdesak. “Pesimis bolehkah aku menumpang perahumu?” “Oh, kasih sayang kau terlalu baik untuk berlayar denagnku. Perhatianmu membutaku merasa lebih bersalah lagi. Bagai mana kalo nanti ada ombak besar yang menghantam perahuku dan kau tenggelam? Tidak aku tidak tega mengajakmu.”
            Salah satu yang paling akhir meninggalkan pulau adalah optimisme. Itu karena dia tak percaya datangnya bencana dan hal” buruk termasuk bahwa pulau ini akan tenggelam. Kasih sayang berteriak memanggilnya, tetapi optimisme tak medengar. Ia teralu sibuk menatap kedepan dan memikirkan tujuan berikutnya. Kasih sayang memanggilnya lagi, tetapi optimisme tak ada istilah menoleh kebelakang. Ia terus berlayar ke depan.
            Pada saat kasih sayang sudah nyaris putus asa, dia mendengar sebuah suara, “Ayo, naiklah ke perahuku!” kasih sayang merasa begitu lelah, sehingga dia meringkuk di atas perahu dan langsung tertidur. Ia tertidur sepanjang jalan sampai nahkoda  kapal mengatakan mereka sudah samapi di daratan kering. Ia begitu berterima kasih, meloncat turun dan melambaikan tangan kepada nahkoda baik hati itu. Tapi ia lupa menanyakan namanya.
            Ketika di pantai, ia bertemmu pengetahuan dan bertanya “Siapa tadi yang menolongku?” “Itu tadi waktu.” Jawab pengetahuan. “Waktu?” tanya kasih sayang. “ Kenapa hanya waktu yang mau menolongku ketika semuanya tidak mau mengulurkan tangan?” pengetahuan tersenym dan menjawab, “Sebab hany waktu yang mampu mengerti betapa hebatnya kasih sayang.”



~ Menyediakan cukup waktu untuk menunggu dan membiarkan kasih sayany bekerja…….

By : My sister

Tidak ada komentar:

Posting Komentar